29 September 2006

The Physics of Cycle Suspension



All vehicles on earth are governed by the same laws of physics. Your truck, a motorcycle, a bicycle. It is all the same in the world of physics. These following principles describe the situations that govern vehicle movement. dw-link anticipates and works with these principles to balance forces for exceptional vehicle performance.

  1. Every rider has a mass. For a person seated on a bike, a theoretical point just in front of his or her navel represents their “center of mass."
  2. Newton's Third law of Motion states that "Every action has an equal and opposite reaction." When a bicycle accelerates forward, the rider's mass is transferred rearward. Without something to counteract this mass transfer, the rear suspension on most bicycles will compress under acceleration. This mass transfer as a reaction to acceleration is what riders have come to know as "bob."
  3. "Pedal feedback" is a result of radically changing aligned chainstay lengths (the distance from the center of the BB to the center of the rear axle). The less radical of a change in aligned chainstay length, the less pedal feedback can be felt.
  4. Extra damping is not a substitute for an efficient suspension system. Less compression damping lets your suspension react to smaller imperfections on the trail and aids in traction while cornering and climbing
it's a good article, all material taken from here,
i'll be translate next time..

10 September 2006

bijii!!


pancen wong londo kuwi rodho kentir rek..!!
mlejiit mlejiit tah..

05 September 2006

Chief Judge Tour d'Indonesia 2006

Daryadi Sadmoko
Menggabungkan minat dan seni

Pria berperawakan gagah ini memang bukan lagi seorang pembalap. Tapi, hampir pada setiap even balapan di Indonesia, entah itu BMX, road race, ataupun MTB, pria bernama lengkap Daryadi Sadmoko ini bisa ditemukan dengan mudah. Jika Anda belum pernah bertemu, cari saja orang yang menenteng tiga atau bahkan empat stop watch. Maklum, Sadmoko adalah salah satu wasit balap sepeda yang sering mendapatkan tugas mengawasi pertandingan dan mencatat waktu para atlet yang sedang bertarung.

Saya menjadi wasit karena tak bisa pisah dengan dunia balap sepeda,” kata mantan pembalap yang pada awal dekade 1990-an bergabung dengan Klub Kolombo, Yogyakarta, ini. Mengaku gemar membalap sejak kecil, Sadmoko hanya sempat dua tahun menggeluti dunia keatletan secara serius. Tahun 1992, dia memutuskan berhenti membalap karena harus lebih serius menyelesaikan kuliahnya di Perguruan Taman Siswa, Yogyakarta.

Sejak lulus kuliah, kerinduannya kepada dunia balap sepeda terus membengkak. Sebagai pelipur rindu, dia pun mulai ikut membantu ISSI Purwokerto. “Meskipun bukan pelatih, saya bisa menularkan pengalaman dan pengetahuan yang saya miliki,” ujarnya. Dia juga aktif di Komisi Wasit Pengurus Daerah ISSI Jawa Tengah maupun di Pengurus Cabang ISSI Purwokerto.

Tahun 2005 lalu, dia pun mengikuti kursus perwasitan tingkat nasional. Dan, begitu lisensi ada di tangannya, Sadmoko nyaris tak pernah berhenti menjadi wasit. Cabang yang dia “awasi” pun beragam. MTB oke, BMX oke, road race pun oke juga.

Beruntung, PT Sawung Sari, sebuah perusahaan peternakan ayam dan konstruksi tempat Sadmoko bekerja memberikan dukungan penuh. Setiap kali ada tugas menjadi wasit, izin untuk tak masuk pasti dia dapatkan dari perusahaan. Padahal, tak jarang dia harus meninggalkan rumah dan pekerjaannya hingga hampir dua pekan. Seperti ketika dia menjadi wasit di Tour de Indonesia 2006 bulan lalu, misalnya. Padahal, tiga pekan sebelum Tour de Indonesia itu, dia juga sudah “membolos” lantaran menjadi wasit di Tour de East Java selama 5 hari. Sekadar Anda tahu, Sadmoko adalah wasit kepala dalam Tour d’Indonesia 2006 dan menjadi wasit motor dalam Tour d’East Java 2006.

Memang ada konsekuensi yang harus saya dapatkan, tapi secara prinsip mereka memberikan izin,” kata sarjana pendidikan yang kini bekerja di bagian konstruksi ini. “Itu benar-benar membahagiakan saya,” tambah pria kelahiran 15 September 1968 ini. Apalagi, ujar ayah satu anak ini, istri dan anaknya pun tak pernah protes ditinggal berlama-lama mengawal lomba di berbagai daerah.

Sadmoko mengaku, menjadi wasit sangatlah banyak suka dukanya. Salah satunya, dia harus memahami dengan baik yellow book (kumpulan aturan pertandingan) yang setiap tahun dikeluarkan oleh UCI. “Banyak official maupun atlet yang pura-pura tak paham dan mengajukan protes untuk mendapatkan keuntungan,” ujar Sadmoko.

Dalam Tour de Indonesia 2005, misalnya, ada official yang memprotesnya lantaran mengizinkan atlet yang tak mencapai finis di etape sebelumnya untuk mengikuti perlombaan di etape berikutnya. Mereka protes keras, padahal aturan UCI jelas-jelas mengizinkannya selama sang atlet sudah mencapai jarak tertentu di etape sebelumnya itu.

“Di situ seninya menjadi wasit. Harus bisa membuat keputusan yang tegas, dan harus bisa menyampaikannya dengan kesopanan agar pihak yang tadinya merasa dirugikan bisa menerima keputusan itu,” katanya. Ini bukan pekerjaan gampang, tentu saja.

04 September 2006

Dji Sam Soe Tour d’Indonesia 2006 (2)


Etape demi Etape yang melelahkan

Etape 1 Kriterium (Jakarta)
Total 54,6 km (21 laps x 2,6km)
Intermediate Sprint 1 Lap 7
Intermediate Sprint 2 Lap 14
Kecepatan rata-rata 44,87 km/jam

Kibaran bendera start di depan kantor KONI Pusat Senayan Jakarta menandai dimulainya etape kriterium yang sekaligus menjadi etape pertama Tour de Indonesia 2006. Balapan kriterium dilakukan dengan mengelilingi rute segitiga Jl. Pintu Satu, Jl. Asia Afrika, dan Jl. Jenderal Sudirman, Jakarta.

Sejak lap-lap awal hingga pertengahan, rombongan pembalap asing dan lokal masih mengayuh bersama-sama. Mereka saling menjajaki kemampuan untuk perebutan posisi terdepan. Duel jago-jago sprinter baru mulai terlihat saat sprint di lap 7 dan lap 14. Di sini pembalap asal Jerman, Andre Schulze (BACP) langsung memetik poin teratas. Schulze finis di tempat pertama dengan catatan waktu 1:13:01. Dengan hasil ini, Schulze sekaligus juga berhak mengenakan yellow jersey.

Tempat kedua ditempati rekan senegara Schulze, Tobias Erler, yang mengayuh untuk dari tim Giant Asia Racing Team (GNT).Di etape ini, catatan waktu Erler adalah 1:13:01. Sementara posisi ketiga ditempati pembalap Rusia Sergey Kudentsov yang tergabung dalam Greenfield Fresh Milk (GFM). Dia finis dengan catatan waktu 1:13:01.

Sesaat setelah penyematan medali, Schulze dengan optimis menyatakan akan mengamankan kaus kuning pada etape II Bandung-Purwokerto yang berjarak 133,1 km. “Meskipun rute yang akan dihadapi nanti cukup berat karena banyak rute turunan dan jalan rusak, saya yakin menang,” katanya. Schulze, Tobias, maupun Kudentsov mengaku tidak ada masalah dengan cuaca. “Kebetulan daratan Eropa juga sedang musim panas, jadi tak terlalu kaget,” kata Tobias.

Etape kriterium yang tadinya dianggap paling aman ternyata sempat diselingi insiden. Pembalap Araya, Yuli Hariyanto, terpelanting di depan Ratu Plaza. Yuli yang terluka di bagian wajah dan bibir langsung dievakuasi dengan motor marshal ke ambulans yang ada di garis finis.

Etape 2 Bandung–Cirebon
Total 133,1 km Intermediate
Sprint 1 Sumedang (Dibatalkan)
Intermediate Sprint 2 Jatiwangi
Kecepatan rata-rata 37.8 km/jam

Padatnya arus lalu lintas dari tanjakan Jatinangor hingga Cadas Pangeran, Sumedang, membuat para pembalap harus terpecah konsentasinya. Di satu sisi mereka harus memacu kecepatan, dan di sisi lain harus juga menghindari pengguna jalan yang hilir mudik. Kerja keras Marshall dan Patwal kepolisian mengamankan rute berkelak kelok ini seakan tak berarti. Puncaknya, 30 pembalap terdepan mengalami kecelakaan massal di sebuah tikungan patah di daerah Selarema, Sumedang. Lomba pun sempat terhenti tak jauh dari lokasi kecelakaan diiringi protes pembalap dan tim manajer yang secara langsung disampaikan kepada Chief Commissiare Lomba, H Fazin Saad. Pembalap berkeras meminta jaminan keamanan lintasan di depan.

Pimpinan lomba akhirnya menyetujui dan menyatakan pemotongan waktu 2 menit sebagai pengganti waktu saat kecelakaan dan juga menghapus Intermediate Sprint 1 Sumedang berubah menjadi Zona Start Semu atau Neutralized Section. Kesulitan masih tetap membelit para pembalap setelah itu. Jalur jalan di Sumedang yang berkerikil tajam membuat banyak pembalap akhirnya tak bisa melanjutkan etape ini gara-gara pecah ban. Puluhan pembalap rontok dan harus dibantu mobil tim atau neutral car.

Memasuki Km 89,5 di Majalengka, peloton mulai pecah menjadi dua grup besar. Jeda waktu 2,46 detik antara leading group dan peloton terus bertambah dari mulai Gempol-Jamblang hingga 15km menjelang Cirebon. Di etape ini, Andre Schulze (BACP) kehilangan yellow jersey, diambil oleh oleh Sergey Kudentsov (GFM). Tobias Erler (GNT) masih ada di posisi kedua. Sergey mengakui etape ini terasa cukup berat. Ihwal kemenangannya, dia mengaku hal itu didapat dari strategi yang diambil timnya. “GFM menempatkan 3 pembalapnya dalam 20 pembalap leading group, dan akhirnya strategi itu membuahkan hasil,” katanya.
Lain lagi komentar Andre Schulze. Dia tak dapat menyembunyikan kekecewaan lantaran harus melepas kaos kuning. “Tim saya melemah karena Max Nielsen, salah satu anggota tim, sakit,” katanya. Meskipun kehilangan yellow jersey, Schulze mendapat hak menggunakan kaos hijau, sebagai pengumpul poin terbanyak intermediate sprint. Dari tim lokal, Dwiharyanto (IPSJ) menggeser Wawan Setyobudi (ISSI Jogja) dalam perebutan Red White Jersey.

Etape 3 Cirebon-Purwokerto
Total 187,5 km
Intermediate Sprint 1 Tegal
Intermediate Sprint 2 Randu Dongkal
King of Mountain (Kategori 1) Purbalingga
Kecepatan rata-rata 37,8 km/jam

Usai penjajakan kekuatan dan strategi pada etape 1 dan 2, Tim Nasional Jepang makin optimis melalui Makoto Iijima. Belajar banyak saat merebut yellow jersey di dua etape Tour d’East Java lalu, cukup menguatkan mental dan daya juangnya. Iijima berhasil masuk finis di urutan pertama. “Tim kami melakukan strategi untuk tidak terlalu jauh tertinggal dari peloton,” ujarnya seusai lomba.

Meski keluar sebagai juara etape, Iijima tak serta merta meraih yellow jersey. Kaus kuning itu justru hinggap di tubuh Ulzii-Orshikh Jamsran dari tim GFM. “Faktor pengalaman sepertinya memang menjadi teman sejati sang dewi keberuntungan,” ujar Ulzii-Orshikh Jamsran (GFM) yang akrab disapa Oji saat mengungkapkan kegembiraannya merebut yellow jersey pada etape ketiga ini. Green Jersey sendiri masih tetap dikenakan oleh Andre Schulze. Di awal lomba, Nathan Jones (BKC) dan Karnbanchee Komsan (SBR) mencoba melakukan breakaway. Sejak km 15 sampai km 30 dengan jeda waktu mencapai 1 menit, kedua pembalap ini berhasil meloloskan diri. Kemudian peloton mulai terpecah dengan grup awal yang dimotori Ali Ahmad Fallanie (MAS), Hossein Eslami (MKC), Budi Santoso (PSN) dan Reza Pahlevi (JTM). Aksi saling mengejar berlangsung sampai dengan km 52 di Bulakamba, Brebes.

Usaha breakaway Karnbanchee Komsan (SBR) itu tak sia-sia, ia menang di intermediate sprint pertama di Tegal yang disusul Rohmat Nugraha (DDG) dan Nathan Jones (BKC). Pada intermediate sprint kedua, di Randu Dongkal Km 127, giliran Budi Santoso (PSN) yang menang. Sementara, untuk KOM kategori I di ketinggian 855mdpl sekitar Pemalang, diraih Mehdi Faridi Goviz (AZU). Dia pun berhak mengenakan jersey polkadot. KOM ini cukup menyiksa dan melelahkan, karena menanjak sambil berliku lalu menurun panjang hingga masuk Purbalingga, Purwokerto.

Etape berjarak 187.3km ini start didepan Balai Kota Cirebon melintas jalan bergelombang pantai utara Jawa yang selalu diselingi aspal terkelupas di sepanjang jalan. Namun berkat neutral car yang sigap membantu masalah pecah ban, sebagian besar pembalap mampu mengayuh hingga garis terakhir di alun-alun Purwokwerto.

Yang mengejutkan, tiga pembalap tuan rumah berhasil finis di posisi sepuluh besar. Fatahillah Abdullah (BKC) tampil mengesankan dan berhasil finish pada posisi ke enam. Disusul Agus Muhyanto (IPSJ) di posisi ke tujuh. Benteng Muda Tangerang harus puas menyelipkan Moh Radius Ginting dalam daftar pembalap Indonesia di posisi ke sepuluh.

Etape 4 Purwokerto - Solo
Total 245.1 km
Intermediate Sprint 1 Banjarnegara
Intermediate Sprint 2 Magelang
Intermediate Sprint 3 Ampel
King of Mountain 1 (Kategori Hors) Parakan
King of Mountain 2 (Kategori Hors) Kopeng
Kecepatan rata-rata 37 km/jam

Etape Purwokwerto-Solo dengan jarak 245,1 km merupakan etape terpanjang dan sekaligus terberat selama penyelenggaraan Tour d'Indonesia 2006 ini. Perkiraan awal pembalap akan menghabiskan waktu hingga sekitar 8 jam perjalanan, mampu dipangkas lebih cepat oleh Jimes Sprage dengan torehan waktu 6:37:24.

Duet pembalap Benteng Muda, Andri Rosadi bersama Mumuh Mukhsin sempat memimpin dari km 3 Sokaraja – Purbalingga sambil mencuri point sprint pertama. Saat keduanya tertangkap kembali oleh peloton, tiga pembalap lain yaitu Phinkaow Phonthap (SBR), Parno (CCC) dan Bayu Satrio (DDG) malah terlepas sampai Banjarnegara yang berjalur lurus. Peloton mulai diambil alih duo bersaudara Fukushima, Koji dan Shinichi (JPN) bersama Sprage Jimes (BKC) menjelang sprint kedua Magelang. Saling kejar cukup seru itu menghasilkan juara sprint kedua yaitu Sprage Jimes (BKC) dan Shinichi Fukushima pada sprint ketiga.

Lima pembalap; Sprage Jimes (BKC), Sayed Mustafa (AZU), McCann David (GNT), Paul Griffin, dan Uwe Hardter (BACP) terlibat perebutan jersey polka dot di jalur yang membelah tengah gunung kembar Sindoro dan Sumbing. Pada KOM 1 di antara gunung kembar itu, Koji menebas semua jawara tanjakan. Begitu pula pada KOM 2 Kopeng yang berada di ketinggian 1.400 mdpl. Lomba berakhir manis bagi Jepang. Shinichi meraih yellow jersey dan Koji berhak atas jersey polkadot. Sebagian besar pembalap yang tadinya menyiasati etape dengan menyimpan tenaga, harus menelan pil pahit karena kelelahan pada jarak yang luar biasa jauh. Beratnya double King of Mountain (1.400 mdpl) berkategori Hors, tak pelak merontokan hampir sepertiga jumlah peserta.

Etape berat ini juga menuai protes karena pembalap-pembalap DNF (Do Not Finish) ternyata masih dapat ikut terus membalap. Tujuannya hanya untuk memeriahkan balapan yang masih tersisa 5 etape lagi. Hingga etape ini, Andre Schulze masih tetap mampu mengamankan green jersey. Sayang, dukungan untuk dia makin menipis. Rekan setimnya, Max Nielsen, didiskualifikasi karena terbukti berpegangan pada kendaraan tim saat berlomba.

Etape 5 Solo - Madiun
Total 108,9 km
Intermediate Sprint 1 Sragen
Intermediate Sprint 2 Ngawi
Kecepatan rata-rata 43,6 km/jam

Rute Solo–Madiun merupakan rute pendek dan menjadi hadiah bagi para sprinter. Pembalap BACP, Jacob Nielsen dengan catatan waktu 2:29:48 berhasil menjuarai etape ini. Manajer tim BACP, Matt Wiggers, bahkan sesumbar bahwa timnya akan melalap etape ini untuk mengejar posisi terhormat di klasemen individual. “Kami sengaja menyimpan tenaga pada etape 4 kemarin,” tambah Wiggers.

Dalam etape berjarak 108,9km ini protes membanjiri panitia. Pemicunya, pembalap DNF (Do Not Finish) diperbolehkan kembali ikut lomba. Erler Tobias dan Stephen Gallager dari Giant bahkan dengan keras mengkritik bahwa lomba ini sudah tidak fair lagi.

Chief Commissiare asal Malaysia, H Fazin Saad, langsung meminta maaf atas kejadian ini dan berjanji memperbaikinya di etape yang tersisa. Sofyan Ruzian, sang race director, menambahkan bahwa 32 pembalap yang tidak masuk finish pada etape sebelumnya masih bisa ikut dalam etape besok. “Tapi mereka tidak lagi di perhitungkan dalam klasemen umum,” katanya. Sampai di etape ini, trio pembalap Jepang Shinichi, Masahiko dan Koji memborong tiga jersey sekaligus untuk Yellow, Green dan Polkadot Jersey. Kesialan lagi-lagi menimpa Andre Schulze karena green jersey pun harus terlepas dari tangannya. “Saya akan merebutnya kembali dengan segala cara,” katanya dengan gusar begitu tiba di garis finis.

Etape 6 Madiun-Malang
Total 108,9 km
Intermediate Sprint 1 Nganjuk
Intermediate Sprint 2 Kediri
Intermediate Sprint 3 Pare
King of Mountain 1 (Kategori 1) Pujon
Kecepatan rata-rata 39,9 km/jam

Hingga 130 kilometer pertama etape ini, para sprinter punya kesempatan untuk merajalela. Mereka bisa mengayuh sepedanya dengan kecepatan rata-rata 40 km/jam. Tapi setelah itu, sebuah tanjakan langsung menghadang. Pembalap asal Monggolia Jamsran, Ulzii-Orshikh dari tim GFM menjadi yang tercepat masuk finis pada kategori individual dengan catatan waktu 4:36:04. Posisi kedua direbut oleh pembalap Jepang Makoto Iijima dari Japan National Team, dan tempat ketiga direbut oleh David McCann dari Giant Asia. Sementara itu pembalap tuan rumah yang berhasil masuk finis sepuluh besar hanyalah Iwan Setiawan (CCC).

Untuk kategori sprint, etape ini bisa dikatakan milik pembalap dari Rusia, Sergey Kudenssov. Ia menjadi yang tercepat di tiga intermediate sprint yang digelar di etape ini. Sementara KOM direbut oleh Sirous Hashem Zade Varzeghani (AZU). Prestasi tersebut membuat Japan National Team kokoh di puncak klasemen tim. Di etape 5 (rute Solo-Madiun) sehari sebelumnya, Makoto Iijima dan kawan-kawan mulai terkejar oleh para rivalnya khususnya Giant Asia Racing Team (Taiwan), BACP (Denmark), Polygon Sweet Nice, serta Greenfield Fresh Milk. “Jika sudah tak mampu meraih klasemen tim, kami akan mengamankan yellow jersey yang saya kuasai,” kata Shinichi Fukushima.

Di klasemen umum perorangan, Fukushima membukukan waktu 18:29:31, terpaut sekitar satu menit di depan pembalap andalan Giant Asia Racing Team, David McCann. Fukushima rupanya sadar, rekan-rekan McCann pasti juga akan berupaya menopang team leader mereka agar dapat mengambil alih yellow jersey. Sayang dua Fukushima tak mampu masuk ke garis finis. Padahal, mulai etape 6 ini, Panel of Commissaires memberlakukan aturan yang lebih tegas. Pembalap yang DNF (do not finish) dilarang ikut etape berikutnya.

Sementara itu, perebutan red white jersey juga mulai ketat. Benteng Muda Tangerang (BMT) terus berusaha mengamankan Mohammad Radius Ginting yang dalam dua etape terakhir berada di posisi teratas. Ginting pun berkomentar, ”Seluruh tim akan bekerja keras untuk mengamankan posisi saya”. Endra Wijaya (CCC) menguntit di posisi kedua klasemen nasional juga pasti berusaha mendongkel keperkasaan Ginting.


Etape 7 Malang-Jember
Total 181 km
Intermediate Sprint 1 Pasuruan
Intermediate Sprint 2 Probolinggo
Intermediate Sprint 3 Jatiroto
Kecepatan rata-rata 40,3 km/jam

Rontoknya para pembalap Jepang pada etape sebelumnya mulai membuka jalan bagi David McCann dan kawan-kawan dari Giant Asia Racing Team untuk menguasai klasemen perorangan. Hal lain yang menggembirakan pada etape ini adalah saat Fatahillah Abdullah (BKC) berhasil finis terdepan.

Sepanjang lomba, peloton terus menerus didominasi oleh para pembalap lokal. Di km 75, Rohmat Nugraha (DDG) mencoba lepas dari peloton hingga intermediate sprint kedua. Tapi kejaran peloton yang dimotori Fatahillah tak kuasa dibendung lagi. Tiga sprint sekaligus diborong Fatahillah. Green jersey pun jatuh ke tangannya. Dominasi pembalap tuan rumah sedikit banyak memang dipengaruhi strategi pembalap asing seperti David McCann (GNT) dan Sergey Kudentsov (GFM). Tim BACP Denmark sangat handal di jalur-jalur datar, terutama pada rute Malang-Jember yang condong menurun.

Etape ini menyediakan tiga kali intermediate sprint yaitu di daerah Pasuruan, Probolinggo dan Wonorejo. Namun sayang, kekuatan BACP sedikit pincang lantaran hanya dua pembalap yang akan mengikuti etape 7 ini, yaitu Dean Iversen dan Uwe Hardter. Sedangkan Andreas Schulze, yang sempat menguasai green jersey sejak etape 2 hingga 4 lalu, harus absen karena sakit.
Pada klasemen lokal, Mohammad Radius Ginting (BMT) tetap berhak mempertahankan Red-White jersey. Meskipun, selisih catatan waktunya kian menipis dengan peringkat dua Mohammad Taufik dari Pengda ISSI Yogyakarta, dan urutan ketiga Hari Fitrianto dari Polygon Sweet Nice.

Etape 8 Jember-Banyuwangi
Total 111,6 km
Intermediate Sprint 1 Batu Apit
King of Mountain 1 (Kategori 2) Garakan
Kecepatan rata-rata 48,7 km/jam

Di etape ini, dominasi Giant Racing Team mulai tak tertandingi lagi. Tim ini hampir pasti akan memenangkan lomba untuk kategori tim. Di antara tim-tim unggulan, hanya Giant saja yang pembalapnya relatif masih utuh. Japan National Team, misalnya, kini hanya bertanding dengan tiga pembalap saja yaitu Makoto Iijima, Masahiko Mifune, Satoshi Hiroshe. Hal serupa juga berlaku pada tim Greenfield Fresh Milk yang juga hanya menyisakan tiga pembalap, yaitu Sergey Kudentsov, Ulzii-Orshikh Jamsran, dan Leung Chi Yin.

Jalur Jember-Banyuwangi yang berjarak 111,6km dan cenderung landai serta menurun, membuat semua tim besar itu berusaha bermain aman. Mereka tak mau kehilangan anggotanya lagi akibat kecelakaan atau DNF. Jalur landai ini menjadi santapan empuk bagi para sprinter.

Tim Giant kembali menopang sang team leader David McCann, yang kini menguasai yellow jersey. ”Kami tak perlu memaksakan diri untuk menjadi juara di etape 8 ini. Yang terpenting bagi kami adalah berusaha secara maksimal bekerjasama mempertahankan yellow jersey ini hingga akhir tour,” kata Mc Cann.

Etape 9 Gilimanuk-Denpasar
Total 147 km
Intermediate Sprint 1 Negara
Intermediate Sprint 2 Ubung
Kecepatan rata-rata 43,32 km/jam

Begitu bendera start berkibar di gerbang pelabuhan penyeberangan Gilimanuk, pembalap langsung menyusur tepian pantai pulau Bali menempuh jarak 147km. Di sini penyelenggara lomba menambahkan satu sprint sebagai pengganti ketika kecelakaan di Sumedang lalu. Dalam perjalanan, peloton terus bergerombol hingga masuk sprint pertama di Jembrana, Negara. Sesekali terlihat ada yang mencoba lepas, namun dapat terkejar kembali. Wawan Setiobudi (YKT) dan Yevgeniy Yakovlev (PSN) masuk ke finis pertama dan kedua. Abdullah Fatahillah masuk finis di urutan ketiga, lalu diiringi peloton besar.

Keberhasilan Abdullah ini membuat dia bertahan mengenakan green jersey. Yellow jersey tetap milik Mc Cann. Moh Radius Ginting juga tetap dengan berhak atas red white jersey-nya. Untuk polkadot jersey, Mehdi Faridi Goves menggeser Jimes Sprage. Dan tour panjang ini pun berakhir manis.

Djie Sam Soe Tour 'Indonesia 2006 (1)


Sukses yang kurang membanggakan

Seribu tigaratus lima puluh kilometer
Seratus lima pembalap
Dua puluh satu tim
Sembilan belas intermediate sprint
Lima King Of Mountain
Ratusan ribu kayuhan pedal…

Balapan paling akbar di Indonesia itu usai sudah. Setelah menempuh jarak 1.352,2 km yang terbentang sepanjang Pulau Jawa dan separuh Pulau Bali, selama 9 hari, Dji Sam Soe Tour d’Indonesia 2006 berakhir di Pantai Kuta, Bali, 5 September lalu. Sepanjang jalan, 105 pembalap dari 21 tim mengadu kecepatan untuk menentukan siapa pembalap yang terkuat.

David McCann dari Giant Racing Team Taiwan akhirnya mencatatkan diri sebagai juara balapan ini. Jarak itu dia lalap dengan waktu 33 jam, 17 menit, dan 35 detik. Kemenangannya ini membuat Mc Cann berhasil menyabet Piala Presiden Indonesia. Posisi kedua, dengan selisih waktu 2 menit 45 detik, ditempati oleh Vyacheslav Dyadichkin dari Polygon Sweet Nice. Di bawahnya, menyusul Sayed Mustapha Sayed Rezai dari Sport Department of Azad Islamic University Cycling Team yang memiliki catatan waktu 5 menit 14 detik di bawah sang juara.

Perebutan posisi atlet dengan catatan waktu tercepat (yang sepanjang lomba ini juaranya mengenakan yellow jersey) memang sedemikian rupa serunya. Mc Cann awalnya bukan siapa-siapa. Namun semenjak etape 4 (Purwokerto-Solo), jersey berwarna kuning itu tak pernah terlepas dari dirinya.

Usaha Dyadichkin untuk merebutnya di dua etape terakhir juga tak membuahkan hasil. Setiap kali pembalap yang tergabung dalam Polygon Sweet Nice itu berusaha menyalip, kontan para komprador Mc Cann dari Giant Cycling Team pasti akan menjaga pergerakan Dyadichkin. Begitu pun sebaliknya. Perebutan posisi terhormat dalam balapan ini memang berlangsung amat ketat sejak awal etape. Maklum, para pembalap yang dikirim untuk ikut serta dalam lomba ini memang merupakan jagoan-jagoan yang dimiliki oleh tim masing-masing. Giant Asia Racing Team, misalnya, mengirimkan dua pembalap utamanya, McCann David dan Paul Griffin. Dua jagoan ini sudah berpengalaman menghadapi medan Indonesia dalam Tour d’Indonesia 2005 lalu.

Tim-tim Iran, kendati tak mengikut sertakan tiga jagoan terbaiknya –Ghader Mizbani, Ahad Kazemi, dan Hossein Askari, masih mengirimkan Sayed Mustapha Sayed Rezai. Polygon Sweet Nice juga tetap diperkuat dengan duo Kazakhtan, Yevgeny Yakovlev, dan Vyacheslav Dyadichkin. Lalu, Japan National Cycling Team yang beberapa pekan sebelumnya sempat menjajal Tour d’East Java turut menghadirkan dua Fukhusima bersaudara, Koji dan Shinichi. Bintang Kranggan Cycling Team juga mengundang pembalap asing, Jimes Sprage pembalap muda asal Inggris, dan Nathan Jones dari Australia.

Memang, patut disayangkan juga bahwa kebanggaan Indonesia bisa menggelar agenda balapan akbar ini ternyata tak diikuti dengan naiknya prestasi pembalap lokal. Bahkan, jika mau lebih jujur, hampir tak ada pembalap dari Asia Tenggara yang mampu mencatat prestasi bagus.

Dari seluruh pembalap lokal yang ikut bertarung di ajang balapan ini, Indonesia hanya bisa membanggakan prestasi Abdullah Fatahillah. Pembalap yang tergabung dalam Bintang Kranggan Cycling Team ini mampu mengumpulkan poin tertinggi untuk intermediate sprint hingga berhak mengenakan green jersey. Polka dot jersey, yang merupakan kaus kehormatan bagi para raja tanjakan juga tak pernah sekalipun mampir ke tubuh pembalap Indonesia.

Di akhir sesi balapan, gelar raja tanjakan akhirnya disabet oleh Mehdi Faridi Goviz, pembalap yang tergabung dalam Sport Department of Islamic Azad University Cycling Team. Tak ada satu nama Indonesia pun dalam posisi dua dan tiga klasemen tanjakan ini. Beruntung, dalam balapan ini panitia membuka kategori jersey merah putih yang mencerminkan pembalap Indonesia tercepat. Jersey ini dimenangkan oleh Mohamad Radius Ginting dari Benteng Muda Tangerang. Tapi coba bandingkan catatan waktu Ginting dengan McCann. Ada selisih sekitar 18 menit. Jauh sekali bedanya.

Catatan waktu terbaik pembalap Indonesia (RedWhite Jersey)

  1. Mohamad Radius Ginting BMT 33:35:24
  2. Moh Taufik YKT 33:35:34 00:10
  3. Hari Fitrianto PSN 33:35:52 00:28
Klasifikasi Juara Tanjakan (Polkadot Jersey)
  1. Mehdi Faridi Goviz AZU 22 pts
  2. Seyed Mustafa Seyed Rezaei AZU 21 ptsJ
  3. imes Sprage BKC 20 pts
Klasemen Umum Poin Sprint (Green Jersey)
  1. Fatahillah Abdullah BKC 30 pts
  2. Sergey Kudentsov GFM 25 pts
  3. Masahiko Mifune JPN 17 pts

Klasemen Catatan Waktu Tercepat (Yellow Jersey)
  1. McCann David GNT 33:17:35
  2. Vyacheslav Dyadichkin PSN 33:20:20 02:45
  3. Seyed Mustafa Seyed Rezaei AZU 33:22:48 05:13
  4. Daniel Llyod GNT 33:22:49 05:14
  5. Paul Griffin GNT 33:22:51 05:16
Klasemen Umum Tim

  1. Giant Asia Racing Team 99:58:42
  2. Polygon Sweet Nice 100:17:56 19:14
  3. Sport Dept of Islamic Azad University 100:19:37 20:55
  4. Bintang Kranggan Cycling Club 100:46:56 48:14
  5. Customs Cycling Club 100:55:11 56:29