05 September 2006

Chief Judge Tour d'Indonesia 2006

Daryadi Sadmoko
Menggabungkan minat dan seni

Pria berperawakan gagah ini memang bukan lagi seorang pembalap. Tapi, hampir pada setiap even balapan di Indonesia, entah itu BMX, road race, ataupun MTB, pria bernama lengkap Daryadi Sadmoko ini bisa ditemukan dengan mudah. Jika Anda belum pernah bertemu, cari saja orang yang menenteng tiga atau bahkan empat stop watch. Maklum, Sadmoko adalah salah satu wasit balap sepeda yang sering mendapatkan tugas mengawasi pertandingan dan mencatat waktu para atlet yang sedang bertarung.

Saya menjadi wasit karena tak bisa pisah dengan dunia balap sepeda,” kata mantan pembalap yang pada awal dekade 1990-an bergabung dengan Klub Kolombo, Yogyakarta, ini. Mengaku gemar membalap sejak kecil, Sadmoko hanya sempat dua tahun menggeluti dunia keatletan secara serius. Tahun 1992, dia memutuskan berhenti membalap karena harus lebih serius menyelesaikan kuliahnya di Perguruan Taman Siswa, Yogyakarta.

Sejak lulus kuliah, kerinduannya kepada dunia balap sepeda terus membengkak. Sebagai pelipur rindu, dia pun mulai ikut membantu ISSI Purwokerto. “Meskipun bukan pelatih, saya bisa menularkan pengalaman dan pengetahuan yang saya miliki,” ujarnya. Dia juga aktif di Komisi Wasit Pengurus Daerah ISSI Jawa Tengah maupun di Pengurus Cabang ISSI Purwokerto.

Tahun 2005 lalu, dia pun mengikuti kursus perwasitan tingkat nasional. Dan, begitu lisensi ada di tangannya, Sadmoko nyaris tak pernah berhenti menjadi wasit. Cabang yang dia “awasi” pun beragam. MTB oke, BMX oke, road race pun oke juga.

Beruntung, PT Sawung Sari, sebuah perusahaan peternakan ayam dan konstruksi tempat Sadmoko bekerja memberikan dukungan penuh. Setiap kali ada tugas menjadi wasit, izin untuk tak masuk pasti dia dapatkan dari perusahaan. Padahal, tak jarang dia harus meninggalkan rumah dan pekerjaannya hingga hampir dua pekan. Seperti ketika dia menjadi wasit di Tour de Indonesia 2006 bulan lalu, misalnya. Padahal, tiga pekan sebelum Tour de Indonesia itu, dia juga sudah “membolos” lantaran menjadi wasit di Tour de East Java selama 5 hari. Sekadar Anda tahu, Sadmoko adalah wasit kepala dalam Tour d’Indonesia 2006 dan menjadi wasit motor dalam Tour d’East Java 2006.

Memang ada konsekuensi yang harus saya dapatkan, tapi secara prinsip mereka memberikan izin,” kata sarjana pendidikan yang kini bekerja di bagian konstruksi ini. “Itu benar-benar membahagiakan saya,” tambah pria kelahiran 15 September 1968 ini. Apalagi, ujar ayah satu anak ini, istri dan anaknya pun tak pernah protes ditinggal berlama-lama mengawal lomba di berbagai daerah.

Sadmoko mengaku, menjadi wasit sangatlah banyak suka dukanya. Salah satunya, dia harus memahami dengan baik yellow book (kumpulan aturan pertandingan) yang setiap tahun dikeluarkan oleh UCI. “Banyak official maupun atlet yang pura-pura tak paham dan mengajukan protes untuk mendapatkan keuntungan,” ujar Sadmoko.

Dalam Tour de Indonesia 2005, misalnya, ada official yang memprotesnya lantaran mengizinkan atlet yang tak mencapai finis di etape sebelumnya untuk mengikuti perlombaan di etape berikutnya. Mereka protes keras, padahal aturan UCI jelas-jelas mengizinkannya selama sang atlet sudah mencapai jarak tertentu di etape sebelumnya itu.

“Di situ seninya menjadi wasit. Harus bisa membuat keputusan yang tegas, dan harus bisa menyampaikannya dengan kesopanan agar pihak yang tadinya merasa dirugikan bisa menerima keputusan itu,” katanya. Ini bukan pekerjaan gampang, tentu saja.

No comments: